twitter


 MODUL 1
RUANG LINGKUP AKUNTANSI

Kegiatan Belajar 1: Prinsip-Prinsip dan Praktik-praktik Akuntansi
Rangkuman

Akuntansi dapat diartikan sebagai "bahasa bisnis" karena akuntansi adalah sebuah sistem informasi yang menyediakan laporan-laporan bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) mengenai aktivitas ekonomi dan kondisi sebuah perusahaan. Akuntansi dapat didefinisikan sebagai suatu proses pencatatan, pengukuran, dan penyampaian informasi ekonomi agar dapat dipakai sebagai dasar pengambilan keputusan atau kebijaksanaan.
Pihak-pihak yang berkepentingan (pemangku kepentingan) terhadap laporan keuangan suatu perusahaan antara lain penanam dana atau modal yang membutuhkan informasi tentang posisi keuangan dan masa depan perusahaan, kreditur dan supplier (pemasok) perusahaan akan menilai sehat tidaknya keuangan perusahaan dan menilai risiko terhadap kredit yang akan diberikan kepada perusahaan. Lembaga pemerintah memerlukan informasi mengenai aktivitas keuangan perusahaan guna keperluan perpajakan dan perundang-undangan. Karyawan dan organisasi juga berkepentingan terhadap stabilitas dan profitabilitas dari perusahaan tempat mereka bekerja dan para akademisi yang berkepentingan untuk penelitian dan pendidikan
Akuntansi juga mengenal adanya spesialisasi seperti halnya dengan ilmu sosial lainnya. Bidang spesialisasi akuntansi antara lain meliputi: Akuntansi Keuangan, Auditing, Akuntansi Biaya, Akuntansi Manajemen, Akuntansi Perpajakan, Sistem Akuntansi, Akuntansi Anggaran, Akuntansi Pemerintahan dan Akuntansi Sosial.
Peranan Akuntansi dalam kegiatan perusahaan dapat digunakan sebagai alat perencanaan dan alat evaluasi hasil kegiatan. Akuntansi sebagai alat perencanaan dapat terlihat apabila manajemen ingin mengetahui berapa jumlah uang yang harus dibayar, kapan jatuh temponya dan kepada siapa harus dibayar ini semuanya dapat diketahui dari catatan akuntansi. Sedangkan akuntansi sebagai alat evaluasi hasil kegiatan dapat terlihat apabila manajemen ingin membandingkan antara pelaksanaan sesungguhnya dengan tujuan yang direncanakan.
Setiap kejadian atau peristiwa mengakibatkan adanya perubahan terhadap posisi keuangan dari suatu organisasi disebut dengan transaksi. Dalam perusahaan transaksi dapat dibedakan menjadi dua yaitu transaksi intern dan transaksi ekstern.
Kekayaan atau harta yang dimiliki oleh perusahaan disebut aktiva sedangkan hak atau sumber dari mana aktiva tersebut berasal disebut ekuitas (hak milik). Hubungan antara aktiva dan hak milik ini dapat dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut:
Aktiva = Ekuitas
Ekuitas dapat dibedakan menjadi dua bagian pokok, yaitu hak milik dari kreditur (disebut dengan utang) dan hak milik dari pemilik perusahaan (disebut dengan modal atau ekuitas) dengan demikian persamaan di atas dapat diperluas menjadi:
Aktiva = Utang + Ekuitas

Kegiatan Belajar 2: Laporan Akuntansi
Rangkuman

Laporan keuangan suatu perusahaan biasanya terdiri atas lima jenis yaitu neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal, perubahan arus kas dan catatan atas laporan keuangan. Neraca adalah daftar yang sistematis dari aktiva, utang dan modal pada tanggal tertentu, yang biasanya dibuat pada akhir bulan atau akhir tahun. Aktiva biasanya disusun berdasarkan urutan likuiditasnya. Atas dasar ini aktiva dapat dibedakan menjadi aktiva lancar dan aktiva tidak lancar, utang juga diurutkan berdasarkan likuiditasnya yaitu berdasarkan cepat tidaknya utang akan dilunasi, sedangkan modal diurutkan berdasarkan kekekalan atau keawetannya.
Laporan laba rugi adalah laporan yang memuat ikhtisar pendapatan dan beban suatu perusahaan untuk periode tertentu, sehingga dari laporan ini dapat dihitung laba yang diperoleh atau rugi yang dialami suatu perusahaan. Pos-pos pendapatan dan beban disusun menurut besar-kecilnya. Semakin besar pos pendapatan dan beban berarti besar pos tersebut mendapat perhatian dari pembaca laporan.
Laporan modal adalah laporan yang menunjukkan ikhtisar perubahan modal untuk periode tertentu, mungkin satu bulan atau satu tahun. Dari laporan ini dapat diperoleh sebab-sebab perubahan modal selama periode tertentu.
Laporan arus kas merupakan laporan yang wajib dibuat perusahaan, menurut Standar Akuntansi Keuangan 1994 (PSAK No. 2). Laporan arus kas adalah laporan yang menggambarkan arus masuk dan arus keluar dari kas (uang dan rekening giro). Arus kas dapat bersumber dari operasi, investasi dan pendanaan atau financing. Pemakai laporan menggunakan laporan ini untuk dapat mengevaluasi perubahan aktiva bersih perusahaan.
Catatan atas laporan keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ke empat jenis laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan ini biasanya berupa penjelasan atau suplemen dari pos-pos laporan keuangan.


MODUL 2
SIKLUS AKUNTANSI
Kegiatan Belajar 1: Pencatatan Transaksi
Rangkuman

Pengaruh transaksi terhadap suatu perusahaan di dalam akuntansi dapat digambarkan dengan menggunakan persamaan akuntansi sebagai berikut:
Aktiva = Utang + Ekuitas atau A = U + E
Ekuitas (modal) perusahaan dapat berubah apabila perusahaan memperoleh Pendapatan (P) atau adanya setoran modal, dan perusahaan menyerap Beban (B) atau adanya pengambilan modal (prive).
Meskipun setiap transaksi dapat dicatat dengan persamaan akuntansi seperti di atas, namun bentuk pencatatan tersebut kurang praktis digunakan, karena transaksi yang terjadi di perusahaan selama periode tertentu akan menyangkut berbagai pos (elemen) aktiva, utang, ekuitas, pendapatan dan biaya yang jumlahnya dapat mencapai ratusan.
Agar informasi harian dapat tersedia, pada saat dibutuhkan, dan laporan keuangan dapat disusun setiap saat, maka perlu dibuat catatan yang terpisah untuk setiap pos. Catatan tersebut dalam akuntansi disebut dengan rekening (akun). Sedangkan kelompok rekening yang berkaitan dan merupakan satu unit disebut buku besar (ledger).
Akun adalah catatan formal akuntansi yang digunakan untuk mengikhtisarkan transaksi yang terjadi selama periode akuntansi dan bentuk akun ini dapat bermacam-macam. Bentuk paling sederhana suatu akun terdiri atas tiga bagian: (1) Judul, yang menunjukkan nama dari pos yang dicatat, (2) ruang (tempat) untuk mencatat penambahan jumlah dari pos tersebut dalam unit rupiah (uang) dan (3) ruang untuk mencatat pengurangan jumlah dari pos tersebut. Bentuk rekening tersebut sering disebut akun dua kolom atau akun T.
Pada akhir periode seluruh akun dijumlahkan dan dihitung saldonya. Akun-akun ini merupakan bahan dasar yang akan digunakan untuk menyusun laporan keuangan. Akun-akun pendapatan dan beban dipakai untuk menyusun laporan laba rugi, akun aktiva, utang dan ekuitas dipakai untuk menyusun neraca, akun ekuitas dan prive dipakai untuk menyusun laporan perubahan modal dan akun kas dipakai untuk menyusun arus kas.
Cara pencatatan langsung ke dalam akun sulit dilakukan dalam praktik, karena jumlah akun cukup banyak dan terjadi kesalahan sulit untuk melacak kesalahan tersebut, maka untuk pencatatan transaksi sebelum dilakukan pencatatan ke dalam akun, terlebih dahulu dicatat dalam buku jurnal. Buku jurnal yaitu buku yang digunakan untuk mencatat kejadian keuangan (transaksi) yang dilakukan secara urut waktu dan pencatatan dalam buku jurnal ini juga sejalan dengan persamaan akuntansi, dalam arti setiap transaksi akan didebet dan dikredit dalam jumlah yang sama. Bentuk buku jurnal ini yang banyak dikenal adalah bentuk dua kolom.
Kegiatan Belajar 2: Jurnal Penyesuaian (Adjustment Journal)
Rangkuman

Daftar saldo pada akhir periode akuntansi, sering kali tidak mencerminkan saldo yang sesungguhnya pada saat tersebut. Hal ini disebabkan karena adanya transaksi-transaksi yang setiap saat berjalan terus, di mana perusahaan tidak praktis (tidak sengaja) untuk mencetaknya. Agar akun-akun dalam daftar saldo dapat langsung disajikan sebagai laporan keuangan, maka akun-akun tersebut harus disesuaikan terlebih dahulu.
Transaksi-transaksi kontinu yang biasanya selalu memerlukan penyesuaian setiap akhir periode akuntansi dapat diikhtisarkan sebagai berikut.

  1. Alokasi harga perolehan dari persekot biaya, seperti bahan habis pakai, persekot sewa, dan persekot biaya yang lain, penyesuaian dalam hal ini dilakukan untuk mengalokasikan beberapa bagian persekot biaya yang sudah menjadi biaya-biaya dan beberapa bagian yang masih merupakan persekot. Dalam akuntansi dikenal dengan istilah pos-pos defferal (transitoris)
  2. Alokasi pendapatan yang diterima di muka seperti: uang muka pendapatan sewa, uang muka penjualan dan uang muka pendapatan yang lain. Penyesuaian ini diperlukan untuk memisahkan beberapa bagian Uang Muka Pendapatan yang sudah menjadi pendapatan dan beberapa bagian yang masih tetap merupakan uang muka. Pos-pos seperti ini juga disebut dengan pos-pos defferal.
  3. Alokasi harga perolehan aktiva jangka panjang. Penyesuaian ini dilakukan untuk mengakui adanya biaya yang terjadi karena perusahaan menggunakan aktiva tetap yang manfaatnya semakin menurun. Penurunan manfaat ini dalam akuntansi disebut depresiasi (penyusutan).
  4. Biaya yang terutang (bertambahnya biaya) penyesuaian ini terjadi karena sudah terjadi biaya dalam perusahaan, tetapi belum dicatat sampai tanggal neraca. Dengan demikian penyesuaian di sini digunakan untuk mencatat bertambahnya biaya dan untuk mencatat bertambahnya utang biaya. Pos-pos ini dikenal dengan istilah pos-pos akrual (antisipasi)
  5. Pendapatan yang tertagih (Bertambahnya Pendapatan). Penyesuaian ini timbul karena perusahaan telah mempunyai hak atas suatu pendapatan tetapi belum dicatat sampai dengan tanggal neraca. Dengan demikian penyesuaian ini dimaksudkan untuk mencatat bertambahnya pendapatan di satu pihak dan bertambahnya tagihan di pihak lain. Pos-pos ini disebut dengan pos-pos akrual (antisipasi)
Setelah penyesuaian-penyesuaian tersebut dicatat dan dibukukan, maka buku besar telah siap untuk disajikan sebagai elemen laporan keuangan. DAFTAR PUSTAKA
  • Ikatan Akuntan Indonesia. (2004). Standar Akuntansi Keuangan, Salemba Empat, Jakarta.
  • Niswonger & Fees. (1977). Accounting Principles. Cincinnati, Ohio: South Western Publishing Co.
  • Slavin, Albert dan Reynold, Isaac N. (1975). Basic Accounting. Third Edition. Rinehart and Winston, Inc.
  • Thacker, Ronald J. (1979). Accounting Principles. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall Internasional.
  • Weygandt, Kieso dan Kimmel. (2005). Accounting Principles. Edisi ke-7, USA.: John Wiley & Sons, Inc.


MODUL 3
NERACA LAJUR DAN PENUTUPAN PEMBUKUAN
Kegiatan Belajar 1 : Neraca Lajur (Work Sheet)
Rangkuman

Neraca lajur adalah suatu lembaran kerja berlajur yang digunakan untuk mengikhtisarkan saldo akun-akun dan menyiapkan penyajian laporan keuangan. Penggunaan neraca lajur akan mempermudah proses penyusunan laporan keuangan dengan teliti, tepat dan tepat waktu. Secara umum neraca lajur yang digunakan adalah neraca lajur 10 kolom yang meliputi; (1) Kolom pertama dan kedua (daftar saldo), (2) Kolom ketiga dan keempat (penyesuaian), (3) Kolom kelima dan keenam (daftar saldo setelah penyesuaian), (4) Kolom ketujuh dan kedelapan (Laba Rugi), dan (4) Kolom kesembilan dan sepuluh (neraca).
Kegiatan Belajar 2 : Penutupan Buku (Closing Entries)
Rangkuman

Jurnal penutup dibuat bila perusahaan akan memulai pembukuan untuk periode yang baru. Maksud dari jurnal ini adalah untuk menghindari terjadinya pencampuran transaksi yang sama dari periode sebelumnya, misalnya transaksi pendapatan, biaya dan modal.
Tahap-tahap dalam proses penutupan adalah sebagai berikut:
  1. Pertama; menutup akun-akun biaya ke akun perantara yang dinamakan "Ikhtisar Laba Rugi". Setiap akun yang dikreditkan adalah sebesar saldo debetnya dan sebagai imbangannya akun ikhtisar Laba Rugi dikredit dengan jumlah yang sama. Dengan adanya jurnal penutup ini seluruh akun biaya tidak akan bersaldo lagi.
  2. Kedua; menutup akun-akun pendapatan ke akun ikhtisar Laba Rugi. Setiap akun pendapatan akan didebet sebesar jumlah saldo kreditnya, sebaliknya akun ikhtisar Laba Rugi dikreditkan dengan jumlah yang sama.
  3. Ketiga; menghitung saldo akun ikhtisar Laba Rugi, selanjutnya menutupnya ke akun ekuitas atau saldo laba. Bila akun ikhtisar Laba Rugi bersaldo kredit (berarti jumlah kredit atau pendapatan lebih besar dari jumlah debetnya atau biaya-biaya) ini berarti perusahaan memperoleh laba atau keuntungan. Begitu pula sebaliknya bila akun ikhtisar Laba Rugi bersaldo debet ini menandakan perusahaan menderita kerugian.
  4. Keempat; menutup akun prive atau dividen ke akun ekuitas atau akun saldo laba.
Jurnal balik adalah jurnal yang digunakan untuk memindahkan akun permanen ke akun temporer. Bentuk jurnal ini merupakan kebalikan dari jurnal penyesuaian. Akun-akun yang bersaldo debet dan kredit pada jurnal penyesuaian, akan dibalik pada jurnal balik dengan jumlah yang sama, namun tidak merupakan suatu keharusan dalam proses akuntansi bahwa setiap jurnal penyesuaian harus dilakukan jurnal balik, jurnal penyesuaian yang perlu dibalik adalah jurnal penyesuaian yang terdapat pada akun-akun tertentu atau pos-pos transitoris. DAFTAR PUSTAKA
  • Ikatan Akuntan Indonesia. (2004). Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.
  • Niswonger & Fees. (1977). Accounting Principles. Cincinnati, Ohio: South Western Publishing Co.
  • Slavin, Albert dan Reynold, Isaac N. (1975). Basic Accounting. Third Edition. Rinehart and Winston, Inc.
  • Thacker, Ronald J. (1979). Accounting Principles. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall Internasional.
  • Weygandt, Kiesso, Kimmel. (2005). Accounting Principles, 7th Edtion, John Wiley & Sons, Inc.


MODUL 4
LAPORAN KEUANGAN (FINANCIAL STATEMENTS)
Kegiatan Belajar 1: Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Rangkuman

Akun-akun dalam neraca di klasifikasikan dalam pos aktiva, utang dan modal. Selanjutnya aktiva dikelompokkan menjadi akun aktiva lancar dan aktiva tidak lancar. Untuk aktiva lancar disajikan secara urut atas dasar likuiditasnya yaitu berdasarkan cepat tidaknya masing-masing pos tersebut dijadikan kas atau dipakai. Sedangkan untuk aktiva tetap disajikan berdasarkan kekekalannya. Jenis aktiva tidak lancar yang lain adalah investasi, aktiva tidak berwujud, dan aktiva lain-lain.
Untuk pos utang atau kewajiban dapat juga diklasifikasikan sebagaimana dengan aktiva. Utang lancar diklasifikasi berdasarkan likuiditasnya sedangkan utang jangka panjang dapat diklasifikasikan berdasarkan jumlahnya
Sedangkan untuk akun modal atau ekuitas disusun atas dasar historisnya atau kekekalannya, sehingga sedapat mungkin akun modal harus dapat menunjukkan beberapa modal asli (pribadi) dan berapa yang berasal dari hasil kegiatan perusahaan
Kegiatan Belajar 2: Laporan Laba (Income Statement)
Rangkuman

Laporan Laba Rugi adalah laporan yang menggambarkan kegiatan suatu perusahaan selama periode tertentu. Kegiatan tersebut digambarkan dalam akun-akun pendapatan dan biaya (akun nominal). Pengertian pendapatan dan biaya tidak sama dengan penerimaan kas dan pengeluaran kas.
Pendapatan dapat dibedakan menjadi dua bagian utama yaitu; pendapatan usaha yang berasal dari kegiatan pokok perusahaan dan pendapatan non usaha yang merupakan hasil sampingan perusahaan. Demikian juga dengan biaya, biaya dibedakan menjadi biaya usaha dan biaya non usaha.
Dalam perusahaan dagang selain terdapat biaya usaha dan biaya non usaha terdapat biaya harga pokok penjualan yang merupakan harga pokok dari barang dagangan yang telah terjual.
Jenis laporan laba rugi dari suatu perusahaan dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu single step dan multiple step. Dalam bentuk single step hanya dikenal satu macam laba yaitu laba bersih sesudah pajak, sedangkan pada bentuk multiple step dapat diperoleh informasi berbagai jenis laba yaitu laba kotor, laba usaha, laba bersih sebelum pajak dan laba bersih sesudah pajak.
Kegiatan Belajar 3: Laporan Perubahan Ekuitas (Equity Statement)
Rangkuman

Laporan Laba Rugi adalah laporan yang menggambarkan kegiatan suatu perusahaan selama periode tertentu. Kegiatan tersebut digambarkan dalam akun-akun pendapatan dan biaya (akun nominal). Pengertian pendapatan dan biaya tidak sama dengan penerimaan kas dan pengeluaran kas.
Pendapatan dapat dibedakan menjadi dua bagian utama yaitu; pendapatan usaha yang berasal dari kegiatan pokok perusahaan dan pendapatan non usaha yang merupakan hasil sampingan perusahaan. Demikian juga dengan biaya, biaya dibedakan menjadi biaya usaha dan biaya non usaha.
Dalam perusahaan dagang selain terdapat biaya usaha dan biaya non usaha terdapat biaya harga pokok penjualan yang merupakan harga pokok dari barang dagangan yang telah terjual.
Jenis laporan laba rugi dari suatu perusahaan dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu single step dan multiple step. Dalam bentuk single step hanya dikenal satu macam laba yaitu laba bersih sesudah pajak, sedangkan pada bentuk multiple step dapat diperoleh informasi berbagai jenis laba yaitu laba kotor, laba usaha, laba bersih sebelum pajak dan laba bersih sesudah pajak.
Kegiatan Belajar 4: Laporan Arus Kas (Cash Flow Statement)
Rangkuman

Laporan arus kas merupakan laporan yang menyajikan informasi tentang penerimaan dan pengeluaran kas selama periode tertentu. Informasi arus kas suatu perusahaan berguna bagi para pemakai laporan keuangan sebagai dasar untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas serta menilai kebutuhan perusahaan untuk menggunakan arus kas tersebut.
Tujuan laporan arus kas adalah memberikan informasi historis mengenai perubahan kas dan setara kas dari suatu perusahaan melalui laporan arus kas yang mengklasifikasikan kas berdasarkan aktivitas operasi, aktivitas pendanaan (financing) dan aktivitas investasi selama satu periode akuntansi.
  1. Setara Kas adalah investasi yang sifatnya sangat likuid, berjangka pendek dan yang cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah tertentu tanpa menghadapi risiko perubahan nilai yang signifikan.
  2. Aktivitas Operasi adalah aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan dan aktivitas lain yang bukan merupakan aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan. Arus kas yang positif dari aktivitas operasi menunjukkan perusahaan memiliki kelebihan kas yang dapat digunakan melakukan penambahan investasi atau untuk pelunasan pinjaman jangka panjang. Arus kas dari kegiatan operasional tidak harus paralel dengan laba atau rugi perusahaan.
  3. Aktivitas Investasi adalah aktivitas yang terkait dengan perolehan dan pelepasan aktiva jangka panjang serta investasi lain yang tidak termasuk setara kas. Arus kas dari aktivitas ini dapat menunjukkan apakah perusahaan baru melakukan ekspansi atau sebaliknya baru melakukan divestasi.
  4. Aktivitas Pendanaan adalah aktivitas yang mengakibatkan perubahan dalam jumlah serta komponen modal dan pinjaman jangka panjang perusahaan. Arus kas dari pendanaan dapat menggambarkan bagaimana perusahaan memperoleh dana untuk melakukan kegiatan operasional atau untuk kegiatan investasi. Arus kas yang berasal dari ekuitas memberikan stabilitas yang lebih baik dari pada arus kas yang berasal dari pinjaman jangka panjang.
DAFTAR PUSTAKA
  • Ikatan Akuntan Indonesia. (2004). Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.
  • Niswonger & Fees. (2004). Accounting Principles. Cincinnati, Ohio: South Western Publishing Co.
  • Slavin, Albert dan Reynold, Isaac N. (1975). Basic Accounting. Third Edition. Rinehart and Winston, Inc.
  • Thacker, Ronald J. (1979). Accounting Principles. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall Internasional.
  • Weygandt, Kieso dan Kimmel. (2005). Accounting Principles, Edisi ke-7, USA.: John Wiley & Sons, Inc.


MODUL 5
PERUSAHAAN DAGANG DAN JURNAL KHUSUS
Kegiatan Belajar 1: Perusahaan Dagang (Merchandise Company)
Rangkuman

Perusahaan dagang adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang jual beli barang. Perusahaan membeli barang untuk dijual kembali dalam bentuk semula tanpa mengalami pengolahan. Perusahaan dagang dapat berupa toko, penyalur tunggal, agen penjualan, distributor dan sejenisnya. Karakteristik utama perusahaan dagang adalah bahwa pada peristiwa penjualan terjadi penyerahan barang yang di dalamnya memuat jumlah rupiah disebut harga pokok penjualan.
Pendapatan utama perusahaan dagang adalah berasal dari penjualan barang sehingga rekening penjualan digunakan sebagai ganti rekening Pendapatan. Juga Piutang Dagang dan Utang Dagang. Di samping itu ada akun-akun khusus yang bersangkutan dengan perusahaan dagang di samping Penjualan, antara lain yang terpenting adalah Harga Pokok Penjualan, Pembelian, Retur dan Keringanan Penjualan, Retur dan Keringanan Pembelian, Potongan Penjualan dan Potongan Pembelian. Potongan pembelian ataupun potongan penjualan hendaknya tidak dikacaukan dengan pengertian potongan harga (price/trade discount).
Ada akun khusus menyebabkan Laporan laba-rugi perusahaan dagang juga berbeda dengan laporan perusahaan dagang. Biaya dalam perusahaan dagang dibagi menjadi dua kelompok yaitu biaya yang melekat pada barang dagangan yang terjual yang disebut biaya operasi. Harga pokok penjualan sendiri sebenarnya merupakan biaya operasi lainnya. Penjualan dikurangi dengan harga pokok penjualan merupakan laba yang berasal dari penjualan yang dikenal dengan istilah laba kotor penjualan.
Pada saat terjadi penjualan sebenarnya terjadi dua peristiwa yaitu pertama terjadinya pendapatan yang disebut penjualan yang mempunyai akibat menambah modal dan yang kedua keluarnya barang dagangan sebagai harga pokok penjualan yang mempunyai akibat mengurangi modal karena sifatnya sebagai biaya. Bila pada saat penjualan keluarnya barang dagangan sebagai harga pokok tidak dihitung dan dicatat dan baru akan dicatat pada akhir periode sebagai penyesuaian maka dikatakan bahwa perusahaan menggunakan sistem persediaan fisik atau periodik (physical or periodical inventory system). Sedangkan bilangan pada tiap kali terjadi penjualan harga pokok barang yang ke luar dicatat maka dikatakan bahwa perusahaan menggunakan sistem persediaan kontinu atau buku/perpetual or book inventory system
Kegiatan Belajar 2: Jurnal Khusus (Special Journal)
Rangkuman

Pada umumnya di dalam perusahaan banyak terjadi transaksi yang sifatnya rutin dan frekuensi terjadinya sangat tinggi. Transaksi rutin ini biasanya meliputi: penjualan kredit, pembelian kredit, penerimaan kas, pengeluaran kas dan sebagainya. Dengan buku jurnal dua kolom ternyata pencatatan transaksi rutin menjadi tidak efisien dan tidak praktis, terutama dalam hal posting dari buku jurnal ke buku besar. Karena itu transaksi rutin yang sering terjadi sebaiknya dicatat dalam buku jurnal tersendiri yang disebut dengan buku jurnal khusus. Dengan adanya jurnal khusus maka biasanya ada beberapa akun yang memerlukan perincian misalnya Piutang Dagang dan Utang Dagang. Akun-akun untuk perincian ini membentuk satu buku besar tersendiri yang disebut dengan buku besar pembantu (subsidiary ledger), sedangkan buku besar yang akan digunakan untuk menyusun daftar saldo disebut dengan buku besar kendali (controlling account)
Jurnal khusus yang biasanya memiliki oleh suatu perusahaan dagang antara lain:
  1. Jurnal Penjualan (Sales Journal).
  2. Jurnal Pembelian (Purchase Journal).
  3. Jurnal Penerimaan Kas (Cash Receipt Journal).
  4. Jurnal Pengeluaran Kas (Cash Disbursment Journal).
  5. Jurnal Retur dan Keringanan Penjualan (Sales Return and Allowance Journal).
  6. Jurnal Retur dan Keringanan Pembelian (Purchase Return and Allowance Journal).
Transaksi yang tidak dapat dicatat dalam buku jurnal di atas akan dicatat dalam buku Jurnal umum (General Journal) yang dapat merupakan buku jurnal biasa (dua kolom) atau berkolom banyak (columnar journal). Tentu saja tiap perusahaan tidak harus menyediakan seluruh jurnal khusus di atas tetapi harus disesuaikan dengan kebutuhan. Suatu perusahaan mungkin cukup mempunyai satu jurnal yaitu jurnal umum saja karena transaksi yang terjadi masih sederhana. Bila perusahaan makin maju dan transaksinya makin kompleks maka mungkin diperlukan beberapa jurnal khusus. Yang jelas adalah bahwa suatu perusahaan selalu menyediakan jurnal umum.
DAFTAR PUSTAKA
  • Ikatan Akuntan Indonesia. (2004). Standar Akuntansi Keuangan.
  • Niswonger & Fees. (1977). Accounting Principles. Cincinnati, Ohio: South Western Publishing Co.
  • Slavin, Albert & Reynold, Isaac N. (1975). Basic Accounting. Third Edition. Rinehart and Winston, Inc.
  • Thacker, Ronald J. (1979). Accounting Principles. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall International.
  • Weygandt, Jerry J., Donald E. Kieso, Paul D. Kimmel. (2005). Accounting Principles.7th edition. John Wiley & Sons, Inc.


MODUL 6
AKUNTANSI UNTUK PERSEKUTUAN
Kegiatan Belajar 1: Pembentukan Persekutuan dan Pembagian Laba atau Rugi Persekutuan
Rangkuman

Perbedaan pokok antara perusahaan perseorangan dan persekutuan adalah dalam masalah transaksi modal. Oleh karena persekutuan merupakan perusahaan milik beberapa orang maka laba yang diperoleh juga harus dibagikan kepada seluruh pemilik. Ada berbagai cara dalam pembagian laba atau rugi ini. Agar tidak menimbulkan kesulitan di kemudian hari sebaiknya perjanjian pembagian laba harus diuraikan dengan jelas dalam bentuk tertulis. Bila tidak ada perjanjian yang menyangkut masalah pembagian laba atau rugi, maka dianggap pembagian laba atau rugi dilakukan dengan perbandingan yang sama.
Bila persekutuan dibentuk dari perusahaan yang sebelumnya sudah berjalan, biasanya nilai buku aktiva dari perusahaan sebelumnya menjadi tidak relevan lagi. Oleh karena itu pada umumnya nilai buku tersebut harus disesuaikan lebih dahulu. Persekutuan cukup mencatat nilai aktiva yang baru (yang disetujui bersama), tidak perlu memperhatikan harga perolehan aktiva ketika dulu dibeli oleh perusahaan sebelum menjadi persekutuan. Harga perolehan aktiva bagi persekutuan yaitu harga pada saat aktiva tersebut menjadi hak persekutuan.
Secara umum ciri-ciri persekutuan adalah:
  1. umur atau jangka waktu persekutuan terbatas
  2. tanggung jawab anggota yang tidak terbatas
  3. kepemilikan harta bersama
  4. partisipasi dalam pembagian laba atau rugi; dan
  5. perjanjian tertentu.
Kegiatan Belajar 2: Akuntansi untuk Pembubaran Persekutuan dan Likuidasi Persekutuan
Rangkuman

Salah satu sifat utama dari bentuk organisasi persekutuan adalah usianya yang terbatas. Setiap perubahan anggota persekutuan akan mengakibatkan pembubaran persekutuan. Dengan demikian masuknya anggota sekutu baru, keluarnya anggota sekutu lama dan meninggalnya salah seorang anggota persekutuan, akan membubarkan persekutuan yang ada.
Masuknya sekutu dalam persekutuan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
  1. dengan cara membeli hak pemilik sekutu lama;
  2. dengan cara menyetorkan aktiva kepada persekutuan.
Perbedaan cara penerimaan sekutu baru akan mengakibatkan perbedaan dalam akuntansi. Pada cara pertama transaksi penerimaan sekutu baru hanya dilakukan dengan memindahkan akun modal sekutu lama ke akun sekutu baru. Dengan demikian tidak terjadi perubahan struktur aktiva maupun struktur modal. Pada cara kedua persekutuan akan mencatat penambahan aktiva dan penambahan modal. Jumlah aktiva yang dicatat tidak harus sama dengan jumlah modal sekutu baru. Adakalanya setoran modal dicatat lebih rendah atau lebih tinggi sehingga menimbulkan goodwill yang akan diberikan kepada sekutu lama atau sekutu yang baru masuk. Umumnya bila persekutuan akan menerima anggota baru diadakan penyesuaian lebih dahulu terhadap akun-akun yang ada. Sehingga buku besarnya dapat mencerminkan harga aktiva secara lebih layak. Laba atau rugi yang timbul karena adanya penilaian kembali ini kemudian akan dibagikan kepada para sekutu lama. Bila persekutuan mau menghentikan kegiatannya, maka biasanya akan menjual seluruh aktivanya. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pembagian kekayaan kepada para anggotanya. Proses pembubaran perusahaan ini dikenal dengan proses likuidasi. Adapun langkah-langkah dalam proses likuidasi adalah:
  1. menyesuaikan dan menutup buku-buku yang ada;
  2. menjual seluruh aktiva nonkas (realisasi);
  3. melunasi seluruh utang perusahaan;
  4. mengembalikan modal kepada para sekutu.
Oleh karena tanggung jawab anggota persekutuan tidak terbatas maka bila ada salah seorang anggota sekutu yang modalnya negatif mereka tetap harus menutup jumlah modal yang negatif tersebut. Seandainya sekutu tersebut dalam keadaan bangkrut, maka sekutu yang masih mampu harus menanggung defisit sekutu tersebut. DAFTAR PUSTAKA
  • Ikatan Akuntan Indonesia. (2004). Standar Akuntansi Keuangan, Salemba Empat, Jakarta.
  • Niswonger & Fees. (2004). Accounting Principles. Cincinnati, Ohio: South Western Publishing Co.
  • Slavin, Albert dan Reynold, Isaac N. (1975). Basic Accounting. Third Edition. Rinehart and Winston, Inc.
  • Thacker, Ronald J. (1979). Accounting Principles. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall Internasional.
  • Weygandt, Kieso dan Kimmel. (2005). Accounting Principles, Edisi ke-7, USA.: John Wiley & Sons, Inc


MODUL 7
AKUNTANSI UNTUK PERSEROAN I
Kegiatan Belajar 1: Perseroan
Rangkuman

Perseroan adalah badan hukum yang dapat memiliki harta kekayaan, menandatangani perjanjian, mengadakan utang-piutang dan hak serta kewajiban sebagaimana individu. Perseroan dikatakan sebagai perseroan tertutup bila saham-sahamnya hanya dimiliki oleh kalangan orang tertentu saja dan dikatakan sebagai perseroan terbuka kalau saham-sahamnya dapat dibeli oleh masyarakat bebas.
Modal saham perseroan dapat terdiri atas saham biasa dan saham prioritas (saham preferen). Saham prioritas adalah saham yang memiliki hak-hak lebih tertentu, seperti hak untuk memperoleh dividen lebih dahulu, hak suara, hak pembagian dividen yang pasti dan hak pembagian kekayaan lebih dahulu. Sehubungan dengan masalah pembagian dividen saham prioritas dapat dibedakan menjadi:
  1. Saham prioritas yang kumulatif, partisipasi.
  2. Saham prioritas yang kumulatif, non-partisipasi.
  3. Saham prioritas yang non-kumulatif, partisipasi.
  4. Saham prioritas yang non-kumulatif, non-partisipasi.
Ciri-ciri yang membedakan bentuk perusahaan perseroan dengan persekutuan adalah sebagai berikut. Perseroan merupakan badan hukum tersendiri, oleh sebab itu tanggung jawab harta kekayaan dan utang ada di tangan perseroan itu sendiri. Oleh karena itu, pemilik perseroan hanya bertanggung jawab terhadap jumlah uang yang telah ditanamkan di perseroan tersebut. Dalam hal ini tidak ada tanggung jawab renteng. Hak pemilikan perseroan yang ditandai dengan surat saham dapat dengan mudah dipindahtangankan, dengan demikian pemilikan perseroan lebih luwes dibandingkan dengan persekutuan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa laba yang dibagikan kepada para pemilik akan dikenakan pajak dua kali. Pertama, pada saat laba diperoleh perseroan akan dikenakan pajak penghasilan untuk perseroan dan kedua, pada saat laba diterima pemegang saham akan dikenakan pajak penghasilan atas nama pemegang saham pribadi. Selain itu perseroan pada umumnya dikenakan peraturan-peraturan pemerintah yang lebih banyak dibandingkan dengan persekutuan atau perusahaan perseorangan. Namun bentuk perseroan lebih disukai oleh perusahaan-perusahaan besar dibandingkan dengan bentuk perusahaan yang lain.
Kegiatan Belajar 2: Transaksi Modal
Rangkuman

Perseroan adalah merupakan badan hukum. Oleh sebab itu perseroan dapat bertindak (melakukan transaksi) atas namanya sendiri. Perseroan dapat memiliki aktiva atas nama sendiri dan perseroan dapat berutang juga atas namanya sendiri. Tanggung jawab pemilik (pemegang saham) terbatas pada jumlah uang yang telah mereka setorkan saja. Artinya bila suatu perseroan bangkrut, maka kreditur tidak berhak menagih (menuntut) harta pribadi pemilik perseroan. Pada umumnya pemilikan saham perseroan lebih mudah untuk diperjualbelikan tidak seperti halnya pada pemilikan dalam persekutuan.
Modal perseroan terdiri atas saham-saham, saham-saham ini dapat dibedakan menurut jenisnya yang dapat diikhtisarkan sebagai berikut.

Penyajian modal saham dalam neraca harus dapat menjelaskan berapa jumlah modal saham statutairnya dan berapa jumlah yang telah ditempatkan. Akun modal dalam perseroan dapat dibedakan menjadi:
  1. jumlah nominal saham;
  2. jumlah kelebihan setoran di atas nominalnya (agio saham); dan
  3. jumlah laba yang belum dibagikan kepada para pemegang saham.
Bila perseroan menerbitkan saham tanpa nilai nominal maka harus ditentukan jumlah (nilai) yang ditetapkan. Nilai yang ditetapkan ini dianggap sebagai nilai nominalnya. Pada saat perseroan melakukan emisi saham, maka akun kas atau aktiva lain akan didebet, akun modal saham dikredit sebesar nominalnya (pari), dan kelebihan setoran dicatat dalam akun sendiri yang disebut akun agio saham. Akun modal saham selain dipisahkan ke dalam akun modal saham dan agio saham juga harus diadakan akun modal untuk setiap jenis saham. Klasifikasi modal sendiri pada perseroan dapat dibedakan sebagai berikut.

Bila saham perseroan pada saat emisi ditukarkan dengan aktiva selain kas, maka aktiva yang diterima sebagai setoran tersebut dicatat sebesar harga pasarnya, selisih antara harga pasar aktiva tersebut dengan nominal saham dicatat sebagai agio atau disagio saham. Bila harga pasar aktiva tersebut tidak dapat ditentukan, aktiva tersebut dapat dicatat sebesar harga pasar dari saham perseroan pada saat pertukaran terjadi. Selisih harga pasar saham dengan nominalnya akan dicatat sebagai agio (disagio).
Dalam neraca selain disajikan jumlah modal secara keseluruhan, juga sering disajikan nilai buku per lembar saham. Nilai buku per lembar dihitung dengan cara membagi alokasi modal sendiri ke setiap jenis saham dengan jumlah lembar yang beredar untuk setiap jenisnya. Nilai buku ini menunjukkan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap harga pasar saham di bursa.
Biaya organisasi (biaya pendirian) adalah biaya-biaya yang dikeluarkan dalam rangka mendirikan perseroan. Biaya organisasi ini pada umumnya akan disajikan dalam neraca sebagai aktiva permanen. Bila dirasa biaya organisasi tidak akan bermanfaat, maka biaya organisasi diamortisasi dan dibebankan secara sistematis sebagai biaya.
DAFTAR PUSTAKA
  • Ikatan Akuntan Indonesia. (2004). Standar Akuntansi Keuangan, Salemba Empat, Jakarta.
  • Niswonger & Fees. (2004). Accounting Principles. Cincinnati, Ohio: South Western Publishing Co.
  • Slavin, Albert dan Reynold, Isaac N. (1975). Basic Accounting. Third Edition. Rinehart and Winston, Inc.
  • Thacker, Ronald J. (1979). Accounting Principles. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall Internasional.
  • Weygandt, Kieso dan Kimmel. (2005). Accounting Principles, Edisi ke-7, USA.: John Wiley & Sons, Inc


MODUL 8
AKUNTANSI UNTUK PERSEROAN II
Kegiatan Belajar 1: Klasifikasi Modal
Rangkuman

Klasifikasi modal saham dalam neraca harus diungkapkan dengan jelas. Penyajian modal saham dalam neraca harus mengungkapkan berapa jumlah modal dasar, modal yang ditempatkan dan modal yang ada dalam portofolio. Selisih antara jumlah yang disetor pemegang saham dengan nominal saham dicatat sebagai Premium Modal Saham. Nama lain dari akun ini adalah Agio Modal Saham. Akun Modal Sumbangan digunakan untuk menampung sumbangan-sumbangan yang diterima perseroan. Aktiva yang diterima sebagai sumbangan dinilai sebesar harga pasar dari aktiva tersebut ketika diterima perusahaan.
Adanya pendapatan yang tidak dikenakan sebagai pajak dan biaya yang tidak dianggap sebagai beban oleh peraturan pajak mengakibatkan besarnya pajak menurut perhitungan akuntansi dan perpajakan berbeda. Bila perbedaan ini diakibatkan karena perbedaan waktu maka selisih yang terjadi dicatat dalam akun penangguhan utang PPh.
Sering kali terjadi untuk mencegah laba yang ditahan dibagikan sebagai dividen, perusahaan menyisihkan sebagian laba yang ditahan. Untuk penyisihan ini digunakan akun penyisihan laba yang ditahan (misalnya penyisihan untuk ekspansi) guna memindahkan jumlah dari akun laba yang ditahan ke akun penyisihan ini.
Kegiatan Belajar 2: Jenis Dividen
Rangkuman

Perusahaan dapat membagikan dividen dalam bentuk kas, aktiva lain, atau saham bonus. Hal yang perlu diperhatikan dalam pembagian dividen adalah masalah:
  1. Kapan utang dividen harus dicatat.
  2. Kepada siapa dividen akan diterimakan.
  3. Kapan pembayaran dividen akan dilakukan.
Agar perusahaan dapat membagikan dividennya, maka perusahaan tersebut harus:
  1. Mempunyai saldo laba yang ditahan cukup besar.
  2. Jumlah kas yang cukup.
  3. Memutuskan secara resmi tentang pembagian dividen.
Dividen tunai tidak boleh dibagikan kepada pemilik saham treasury sedangkan dividen saham dapat dibagikan kepada pemilik saham treasury dapat pula tidak. Pembagian dividen tunai akan menyebabkan laba yang ditahan berkurang dan aktiva perusahaan berkurang. Sedangkan pembagian dividen saham tidak akan mengurangi jumlah modal saham. Pembagian ini hanya akan mengakibatkan perubahan bentuk modal dari laba yang ditahan menjadi modal saham. Pemecahan saham adalah usaha perseroan untuk menurunkan harga pasar sahamnya dengan cara menambah jumlah lembar saham yang beredar. Penambahan ini dilakukan dengan cara menurunkan nilai nominal saham. Kejadian ini tidak akan mempengaruhi bentuk susunan modal dan untuk itu tidak perlu dicatat dalam pembukuan.
  1. Bila dalam perseroan terdapat akun penyisihan, maka laporan laba yang ditahan dibagi menjadi dua bagian:
  2. menjelaskan bagian laba yang ditahan yang disisihkan, dan
  3. menjelaskan bagian laba yang penggunaannya tidak dibatasi. Jumlah dari kedua bagian ini kemudian disajikan dalam neraca.
DAFTAR PUSTAKA
  • Ikatan Akuntan Indonesia. (2004). Standar Akuntansi Keuangan, Salemba Empat, Jakarta.
  • Niswonger & Fees. (2004). Accounting Principles. Cincinnati, Ohio: South Western Publishing Co.
  • Slavin, Albert dan Reynold, Isaac N. (1975). Basic Accounting. Third Edition. Rinehart and Winston, Inc.
  • Thacker, Ronald J. (1979). Accounting Principles. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall Internasional.
  • Weygandt, Kieso dan Kimmel. (2005). Accounting Principles, Edisi ke-7, USA.: John Wiley & Sons, Inc


MODUL 9
AKUNTANSI UTANG JANGKA PANJANG DAN INVESTASI
Kegiatan Belajar 1: Konsep Nilai Tunai
Rangkuman

Konsep nilai tunai timbul karena orang lebih suka memiliki uang pada saat sekarang daripada memiliki sejumlah uang pada masa yang akan datang. Hal ini disebabkan karena alasan atau motivasi (1) transaksi, (2) berjaga-jaga (likuiditas), dan (3) spekulasi. Uang yang dimiliki sekarang sudah pasti sehingga dapat digunakan untuk melakukan transaksi, membayar kalau ada tagihan dan diinvestasikan ke bank atau bisnis lain yang menguntungkan. Oleh sebab itu, sejumlah uang yang sama di masa akan datang akan mempunyai nilai lebih rendah bila dihitung nilainya pada saat sekarang. Nilai tunai dihitung dengan mendiskontokan nilai yang akan datang (Future Value) dengan tingkat diskonto yang menyamakan preferensi seseorang terhadap nilai yang akan datang dengan nilai tunai. Secara matematika persamaan nilai tunai dapat digambarkan sebagai berikut.

PV = Present Value
FV = Future Value
r = return atau diskonto
atau dalam rumus umum sebagai berikut:

di mana,
Po = nilai tunai (nilai sekarang)
Pn = nilai uang pada akhir periode ke n
i = tingkat diskonto (bunga)
Untuk menghitung nilai tunai dapat menggunakan tabel bunga yang berisi nilai dari

Dengan tabel tersebut kita dapat dengan mudah menghitung nilai tunai.
Kegiatan Belajar 2: Utang Jangka Panjang (Long Term Debt)
Rangkuman

Pada prinsipnya utang obligasi dicatat sebesar harga pokoknya (costnya) yaitu harga yang terjadi pada saat transaksi. Bila harga pokok utang obligasi berbeda dengan nominalnya, maka selisihnya dicatat dalam akun tersendiri, yaitu akun diskonto atau premium obligasi. Akun ini adalah bagian dari akun utang obligasi. Oleh sebab itu dalam penyajiannya di neraca digabungkan dengan akun utang obligasi.
Diskonto obligasi terjadi bila tingkat bunga obligasi lebih kecil daripada tingkat bunga efektif pada saat obligasi tersebut dikeluarkan. Dan sebaliknya premium utang obligasi terjadi bila tingkat bunga obligasi lebih tinggi daripada tingkat bunga efektifnya. Diskonto dan premium ini harus diamortisasi dan dibebankan sebagai beban bunga selama umur obligasi. Dalam hal ini perusahaan dapat menggunakan salah satu dari dua metode amortisasi yaitu garis lurus dan bunga efektif.
Utang obligasi dapat dilunasi sebelum jatuh temponya (ditebus). Bila harga tebusan tidak sama dengan nilai bukunya, maka penebusan utang obligasi ini akan menimbulkan laba atau rugi penebusan utang obligasi. Bila laba atau rugi penebusan utang jangka panjang ini jumlahnya cukup tinggi, maka jumlah tersebut dalam laporan laba rugi disajikan dalam pos-pos luar biasa. Jumlah yang disajikan adalah jumlah bersihnya, dikurangi pajak penghasilan.
Kegiatan Belajar 3: Investasi Saham dan Obligasi (Debt and Equity Investments)
Rangkuman

Investasi dapat dibedakan menjadi investasi jangka pendek dan investasi jangka panjang. Untuk membedakannya investasi jangka pendek dicatat dalam akun surat-surat berharga atau efek, sedangkan investasi jangka panjang dicatat dalam akun investasi. Bentuk investasi dapat berupa deposito, reksadana, obligasi pemerintah, dan obligasi atau saham dari perusahaan lain. Untuk tujuan penilaian investasi diklasifikasikan sebagai (1) trading securities, (2) available for sale securities, dan (3) held to maturity securities.
Dalam investasi saham, bila jumlah saham yang dibeli dari suatu perusahaan 20% atau lebih, maka perusahaan harus menggunakan metode pencatatan pemilikan (equity method). Dalam metode ini saldo akun investasi akan berfluktuasi, yaitu di debet untuk bagian laba yang diperoleh perusahaan anak dan di kredit untuk bagian dividen yang diumumkan perusahaan anak. Selain itu juga di kredit bila ternyata perusahaan anak mengalami kerugian. Metode pencatatan yang lain, adalah metode harga pokok perolehan (cost method). Dalam metode ini jumlah atau saldo akun investasi akan tetap sama besarnya. Akun investasi hanya berubah bila terjadi pembelian atau penjualan investasi saja. Metode ini diterapkan kalau jumlah kepemilikan saham kurang dari 20% dari jumlah saham yang beredar.
Pencatatan investasi dalam obligasi merupakan kebalikan dari pencatatan pengeluaran obligasi. Hanya saja dalam pencatatan investasi obligasi tidak dikenal akun diskonto atau premium, namun demikian diskonto atau premium obligasi ini juga diamortisasi sampai dengan tanggal jatuh tempo obligasi yang bersangkutan.
Untuk menentukan besarnya amortisasi setiap bulan atau setiap enam bulan, perusahaan dapat menggunakan salah satu dari dua metode yang ada yaitu: metode garis lurus atau metode bunga efektif.
DAFTAR PUSTAKA
  • Ikatan Akuntan Indonesia. (2004). Standar Akuntansi Keuangan, Salemba Empat, Jakarta.
  • Niswonger & Fees. (2004). Accounting Principles. Cincinnati, Ohio: South Western Publishing Co.
  • Slavin, Albert dan Reynold, Isaac N. (1975). Basic Accounting. Third Edition. Rinehart and Winston, Inc.
  • Thacker, Ronald J. (1979). Accounting Principles. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall Internasional.
  • Weygandt, Kieso dan Kimmel. (2005). Accounting Principles, Edisi ke-7, USA.: John Wiley & Sons, Inc


MODUL 10
AKUNTANSI MANAJEMEN 1 (SISTEM AKUNTANSI BIAYA PESANAN)
Kegiatan Belajar 1: Akuntansi Manajemen
Rangkuman

Dalam perusahaan manufaktur dikenal tiga macam persediaan, yaitu:
  1. Persediaan bahan baku berupa bahan yang tersedia untuk diproses menjadi produk jadi.
  2. Persediaan barang dalam proses, berupa barang yang pada akhir suatu periode tertentu (biasanya pada akhir tahun buku) belum selesai diproses, belum menjadi produk jadi dan masih memerlukan proses produksi lebih lanjut.
  3. Persediaan produk jadi, berupa barang-barang yang siap untuk dijual atau dipasarkan.
Selain kegiatan perdagangan, perusahaan manufaktur mempunyai kegiatan pokok proses produksi yang memerlukan tiga unsur biaya yaitu: biaya bahan langsung, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik. Untuk menjalankan fungsi pokok manajemen (fungsi perencanaan, fungsi pengarahan dan pemotivasian serta fungsi pengendalian) manajemen memerlukan banyak informasi. Salah satu informasi yang amat penting adalah informasi biaya termasuk informasi biaya produksi. Informasi biaya produksi disajikan laporan harga pokok produksi. Laporan harga pokok produksi ini jumlah totalnya akan disajikan dalam laporan laba rugi. Kegiatan Belajar 2: Sistem Akuntansi Biaya Pesanan
Rangkuman

Dalam sistem akuntansi biaya pesanan (job-order-cost system) informasi yang disajikan dari sistem ini adalah informasi biaya proses produksi untuk setiap pesanan. Informasi ini disajikan dalam kartu biaya pesanan (job-order-cost sheet). Sedangkan informasi biaya proses produksi secara kolektif dicatat dalam akun barang dalam proses.
Hal penting lain dalam sistem akuntansi biaya pesanan adalah alokasi biaya overhead pabrik. Pada umumnya sulit untuk menelusuri terjadinya biaya overhead pabrik ke setiap pesanan. Biaya overhead pabrik merupakan biaya bersama, artinya biaya untuk kepentingan semua pesanan. Oleh karena itu timbul masalah pembebanan biaya overhead pabrik ke setiap pesanan yang ada. Namun masalah ini dapat diselesaikan dengan menggunakan tarif di muka. Penggunaan tarif ini akan memudahkan dalam penghitungan biaya produksi untuk setiap pesanan yang sedang dikerjakan atau selesai diproses.
Namun demikian penggunaan tarif akan menimbulkan masalah baru, yaitu apabila biaya overhead yang sesungguhnya terjadi tidak sama dengan yang dibebankan ke proses produksi, sehingga timbul masalah lebih atau kurang pembebanan (over-under applied). Untuk alasan kepraktisan, kelebihan atau kekurangan pembebanan ini dialokasikan harga pokok penjualan. Seharusnya selisih ini dialokasikan ke persediaan barang dalam proses, persediaan barang jadi, dan harga pokok penjualan berdasarkan jumlah rupiah masing-masing. Namun biasanya proporsi harga pokok penjualan jauh lebih besar dari persediaan barang dalam proses dan barang jadi. Jadi alokasi ke persediaan barang dalam proses dan barang jadi jumlahnya tidak material (berarti).
Pengertian akun induk dan akun-akun dalam buku besar pembantu juga digunakan dalam sistem akuntansi biaya pesanan ini, yaitu dengan digunakannya akun barang dalam proses dan kartu pesanan. Akun barang dalam proses berfungsi akun kendali (controlling account), sedangkan kartu biaya pesanan sebagai akun pembantu (subsidiary account). Pada akhir periode akumulasi akun pembantu harus sama dengan jumlah yang ada di akun kendali.
Bagaimana cara membuat tarif biaya overhead pabrik? Pada dasarnya sangat sederhana. Langkah-langkah yang harus dilakukan sebagai berikut.
  1. Menaksir jumlah biaya overhead pabrik untuk satu periode yang akan datang periode yang akan dijalani.
  2. Menaksir jumlah kegiatan yang akan dihubungkan dengan alokasi biaya overhead pabrik umumnya jumlah jam tenaga kerja langsung atau jumlah upah langsung selama periode yang sama dengan butir 1.
  3. Menentukan tarif sebagai berikut.
  4. Tentukan pembebanan lebih atau kurang untuk Departemen 1 beserta jumlahnya.
  5. Sama dengan pertanyaan no. 4 di atas bagi Departemen 2.
DAFTAR PUSTAKA
  • Ikatan Akuntan Indonesia. (2004). Standar Akuntansi Keuangan, Salemba Empat, Jakarta.
  • Niswonger & Fees. (2004). Accounting Principles. Cincinnati, Ohio: South Western Publishing Co.
  • Slavin, Albert dan Reynold, Isaac N. (1975). Basic Accounting. Third Edition. Rinehart and Winston, Inc.
  • Thacker, Ronald J. (1979). Accounting Principles. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall Internasional.
  • Weygandt, Kieso dan Kimmel. (2005). Accounting Principles, Edisi ke-7, USA.: John Wiley & Sons, Inc


MODUL 11
AKUNTANSI MANAJEMEN II (SISTEM AKUNTANSI BIAYA PROSES)
Kegiatan Belajar 1: Akuntansi Manajemen II (Sistem Akuntansi Biaya Proses dan Akuntansi Manajemen Modern)
Rangkuman

Sistem akuntansi biaya proses cocok diterapkan pada perusahaan-perusahaan yang proses produksinya kontinu dan masal dan produknya relatif homogen. Biaya produksi yang terjadi dibebankan pada setiap departemen produksi untuk periode tertentu. Pada periode tertentu diadakan penentuan biaya produksi per unit dengan menyusun laporan biaya produksi.
Laporan biaya produksi terdiri atas tiga tahap (1) membuat skedul kuantitas yang menggambarkan aliran unit fisik, (2) menghitung unit produksi setara, (3) menghitung biaya produksi per unit, dan (3) membuat skedul rekonsiliasi biaya produksi.
Biaya produksi per unit dihitung dengan membagi biaya yang terjadi pada departemen tertentu dengan jumlah unit yang dihasilkan departemen tersebut dalam periode tertentu, biasanya satu bulan. Bila dalam pabrik terdapat departemen pembantu, yaitu departemen yang tidak secara langsung ikut melakukan proses produksi, maka biaya yang terjadi di departemen pembantu tersebut dialokasikan ke departemen produksi yang menikmati jasanya. Dasar alokasi yang digunakan adalah besarnya manfaat yang diterima oleh masing-masing departemen produksi.
Bila dalam Departemen Produksi terdapat persediaan barang dalam proses, maka sebelum menghitung biaya pengolahan per unit harus dihitung terlebih dahulu unit ekuivalen produksi. Unit ekuivalen produksi adalah jumlah unit yang seharusnya diproduksi seandainya tidak terdapat persediaan barang dalam proses awal maupun proses akhir. Setelah itu barulah biaya pengolahan per unit ekuivalen produksi dengan cara membagi pengolahan dengan unit ekuivalen produksi.
Kegiatan Belajar 2: Akuntansi Manajemen Modern (Just In-Time Processing dan Activity Based Costing)
Rangkuman

Perkembangan teknologi informasi memungkinkan penyediaan informasi yang akurat dan segera. Hal ini mengurangi ketidakpastian yang dijadikan dasar sistem biaya tradisional. Karena informasi yang akan datang menjadi lebih pasti, maka dikembangkanlah sistem processing tepat waktu atau dikenal dengan just in time processing. Proses produksi yang dulu didasarkan pada sistem dorong (push approach) berubah menjadi sistem tarik (pull approach). Cara ini akan mengurang secara signifikan jumlah persediaan yang ada, sehingga akan menghemat biaya produksi. Selain ini JIT juga dapat memperbaiki keputusan manajemen.
Pada perusahaan yang menghasilkan produk lebih dari satu macam, sering kali saat mengalokasikan biaya overhead dengan tarif tradisional dapat menyebabkan distorsi harga. Biaya produksi untuk produk yang dihasilkan dapat overstated atau understated sehingga dapat mengakibatkan kesalahan di dalam penentuan harga yang akhirnya akan merugikan perusahaan. Untuk mengatasi ini perusahaan dapat menerapkan activity based costing (ABC) yang dapat memberikan informasi biaya yang lebih akurat dan relevan. Sistem ABC didasarkan pada pemikiran bahwa yang menimbulkan biaya adalah aktivitas atau kegiatan. Oleh sebab itu, alokasi biaya overhead pabrik harus didasarkan pada aktivitas. Produk yang memakai aktivitas yang banyak harus memperoleh alokasi yang lebih banyak dibandingkan pada produk yang menggunakan aktivitas lebih sedikit. Sistem ABC juga menyadarkan para manajer bahwa menyebabkan biaya adalah aktivitas, bukan produk. Sistem ABC dapat diterapkan baik pada perusahaan yang memakai sistem biaya pesanan maupun sistem biaya proses.
DAFTAR PUSTAKA
  • Ikatan Akuntan Indonesia. (2004). Standar Akuntansi Keuangan, Salemba Empat, Jakarta.
  • Niswonger & Fees. (2004). Accounting Principles. Cincinnati, Ohio: South Western Publishing Co.
  • Slavin, Albert dan Reynold, Isaac N. (1975). Basic Accounting. Third Edition. Rinehart and Winston, Inc.
  • Thacker, Ronald J. (1979). Accounting Principles. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall Internasional.
  • Weygandt, Kieso dan Kimmel. (2005). Accounting Principles, Edisi ke-7, USA.: John Wiley & Sons, Inc


MODUL 12
SISTEM INFORMASI AKUNTANSI DAN PENGENDALIAN INTERN
Kegiatan Belajar: Sistem Informasi Akuntansi
Rangkuman

Sistem akuntansi terdiri atas metode dan prosedur untuk mencatat dan melaporkan informasi keuangan dari suatu perusahaan atau unit organisasi. Sistem akuntansi yang baik harus dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan perusahaan dan mempertimbangkan pengendalian intern di dalam perancangannya. Tahap sistem akuntansi terdiri atas analisis sistem, perancang sistem dan implementasi dan pengembangan sistem.
Elemen pengendalian intern terdiri atas lingkungan pengendalian, penilaian risiko, aktivitas pengendalian, informasi serta komunikasi dan pemantauan. Apabila kelima elemen ini ada pada suatu organisasi, maka tujuan pengendalian intern akan dapat dicapai dengan lebih baik. Tujuan pengendalian intern adalah menjamin (1) tercapainya tujuan perusahaan (2), keandalan laporan keuangan dan (3) dipatuhinya undang-undang dan peraturan yang berlaku.
Sistem akuntansi komputer memiliki tiga keunggulan dibandingkan dengan kemutakhiran informasi yang dihasilkan. Prinsip yang digunakan dalam sistem akuntansi komputer tidak berbeda dengan konsep yang digunakan dalam sistem akuntansi manual. Oleh sebab itu, biarpun penggunaan sistem akuntansi komputer semakin meluas, namun mempelajari sistem akuntansi manual masih diperlukan.
DAFTAR PUSTAKA
  • Ikatan Akuntan Indonesia. (2004). Standar Akuntansi Keuangan, Salemba Empat, Jakarta.
  • Niswonger & Fees. (2004). Accounting Principles. Cincinnati, Ohio: South Western Publishing Co.
  • Slavin, Albert dan Reynold, Isaac N. (1975). Basic Accounting. Third Edition. Rinehart and Winston, Inc.
  • Thacker, Ronald J. (1979). Accounting Principles. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall Internasional.

0 komentar:

Poskan Komentar